Dari Tsabit Al Banani Rahimahullah dia menceritakan, ada seorang pemuda yang terlibat dalam sebuah peperangan. Pemuda tersebut begitu kuat keinginannya untuk menjadi seorang syuhada. Entah berapa peperangan yang telah ia ikuti namun syahid tak kunjung menyapanya. Sehingga pemuda itu bertekad jika dalam peperangan ini dirinya tidak terbunuh di jalan Allah, aku akan kembali ke kampung halaman dulu, kata pemuda tersebut kepada kawan-kawan seperjuangannya. “Aku mau menikah”, katanya berbinar.

Hari itu panas cukup menyengat. Orang yang sedang berpuasa seperti dirinya berusaha mencari tempat berteduh, seperti di bawah pohon yang tidak jauh dari kemah pasukannya. Tak lama kemudian pemuda inipun terlelap tidur siang. Menjelang matahari tergelincir para sahabatnya membangunkan pemuda tersebut untuk sholat Zhuhur. Namun mereka keheranan, tidak seperti biasanya ia bersegera untuk sholat. Pemuda itu tidak bergegas mengambil air wudlu, ia bahkan menangis tersedu saat terjaga dari tidurnya.

Para sahabatnya merasa khawatir telah terjadi sesuatu kepadanya. “Ada apa dengan dirimu, ya akhi” kata mereka. Setelah diam sejenak menenangkan dirinya si Pemuda menjawab “Tidak ada apa-apa kawan. Tak ada yang perlu kalian khawatirkan terhadap diriku” katanya. Aku hanya bermimpi tadi.

Iapun kemudian menceritakan mimpi yang dialaminya. Mimpi yang membuatnya menangis tatkala dibangunkan oleh kawan-kawannya. Dalam tidurku, kata pemuda itu menceritakan mimpinya, aku didatangi seseorang. “Ayo ikut aku menemui isterimu, ‘Aina”. Lantas akupun ikut dengannya. Aku diajaknya memasuki satu negeri yang terang penuh cahaya. Belum hilang rasa takjubku, aku diajaknya memasuki sebuah taman yang teramat indah yang keindahannya belum pernah kulihat sebelumnya. Kudapati ditaman itu sepuluh wanita yang kecantikannya belum pernah kulihat seumur hidupku.

Aku tanyakan pada salah satu di antara mereka. “Adakah diantara kalian ‘Aina [1]” tanyaku. Diantara mereka menjawab :”Ya ‘Aina ada, kami hanya dayang-dayangnya, masuklah ke sana” Subhanallah, dayang-dayangnya seperti ini bagaimana dengan ‘Aina, pikirku. Lantas aku masuk dengan yang mengajaku tadi ke taman yang ada di dalamnya. Kudapati taman yang jauh lebih indah dari taman sebelumnya. Yang lebih menakjubkan lagi di sana ada duapuluh wanita cantik yang kecantikannya jauh melebihi sepuluh ‘dayang’ yang kutemui di taman sebelumnya. Kutanyakan pada duapuluh wanita jelita itu, adakah diantara kalian ‘Aina? Mereka menjawab :”Ya, ‘Aina ada dan kami adalah dayang-dayangnya, masuklah” Akupun masuk ketempat yang mereka tunjuki. Lagi-lagi pemandangan yang luar biasa terhampar di depan mataku. Taman yang jauh melebihi dua taman yang terlebih dahulu aku masuki. Di sanapun tampak tigapuluh wanita teramat cantik yang melebihi wanita-wanita yang kutemui tadi. Mereka yang ternyata juga adalah dayang-ayang mempersilakan aku untuk memasuki sebuah kubah terbuat dari batu Yaqut berwarna merah, yang sinar cahayanya berpendar di sekitarnya. “Masuklah”, kata orang yang mengantarku. Akupun memasukinya dan kudapati seorang wanita cantik jelita mengalahkan semua wanita yang aku lihat sebelumnya, dia duduk seorang diri. Aku duduk menghampirinya. Kami berbicara dengannya. Saat kami berbicara orang yang mengantarku memanggil di luar. “Ayo kita harus segera pergi” katanya. Entahlah, aku seperti tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya padahal aku masih ingin bersamanya. Kulihat mendung menggantung di wajah ‘Aina. Matanya seakan berbicara agar aku tidak meninggalkannya. “Berbukalah dengan kami malam ini ya!” kata ‘Aina memintaku. Saat itulah aku dibangunkan kalian. Ternyata itu adalah mimpi. Itulah yang menyebabkan aku menangis”, kata pemuda itu mengakhiri ceritanya.

Setelah sholat, panggilan jihad dikumadangkan. Kaum muslimin kemudian bergegas mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh. Terjadilah peperangan dahsyat dengan musuh-musuh Islam. Ketika matahari mendekati peraduannya, ketika orang yang berpuasa saatnya berbuka, pemuda itu mendapat apa yang dia inginkan. Ia terbunuh dalam keadaan masih berpuasa.

Kata Tsabit Al Banani Radhiallahu’anhu, “Aku menduganya ia dari kalangan kaum Anshar. Sepertinya dia mengetahui apa yang akan didapatkannya.”

[Diterjemahkan secara bebas oleh Al Ustadz Abu Zaky bin Muchtar Dari Kitab Kitabul Jihad Karya Al Imam Al Hafizh Al Mujahid Abdullah Ibnul Mubarak]

__________
Footnote
[1] ‘Aina artinya: yang bermata jeli berbinar (Lisanul ‘Arab 13/302)