Sungguh hebat seorang mukmin apabila diberi ujian dia bersabar, dan bila diberi nikmat dia bersyukur.

Sebuah pengakuan yang amat dahsyat. Membuat para pelaku yang memujaNya dapat survive dalam kehidupan apapun bentuk takdir yang hadir bersama dengan sejarah hidupnya.

Rasa Syukur

“Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”(Ali Imran :123)
Sa’id Hawa dalam intisari Ihya Ulumuddinnya menyatakan bahwa sungguh hebat perasaan ini karena maqom (kedudukan) perasaan ini lebih tinggi dari maqom takwa. Padahal yang membedakan antara umat manusia sesungguhnya adalah sifat takwa.
Sudah banyak pembahasan mengenai rasa ini, karena cukuplah hati ini terketuk dengan petuah Ilahiyah mengenai rasa syukur :
“Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Ali Imran:145)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu…” (Ibrahim :7)
Penambahan nikmat itu mencakup diberikannya lima keistimewaan kepada orang yang bersyukur berupa kekayaan, doa yang mustajab, rezeki, ampunan, dan taubat.

Rasa Sabar

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Tidak perlu terlalu panjang lebar pemaparan akan perasaan ini, cukuplah hati ini terketuk dengan petuah Ilahiyah mengenai rasa sabar ini :
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar “ (As-Sajadah:42)

“… Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas” (Az-zumar:10)

“… Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl:96)

Perkawinan Sabar dengan Syukur

Dua perasaan ini memang yang pasti terjadi pada tiap akhir dari kondisi yang kita terima. Jika hasil akhirnya berupa ujian, cobaan, musibah, tidak sesuai harapan maka sikap sabar cukup tepat untuk menjadi pemaklumannya. Manakala yang terjadi sesuai harapan, kemelimpahan, prestasi yang terukir menyejarah, menyenangkan banyak orang, kenikmatan hidup maka pemakluman yang terjadi adalah sikap syukur.

Namun ada pertanyaan yang menggelitik tapi perlu sebuah jawaban yaitu lebih sering mana sikap yang diambil umat manusia di dunia ini selama perjalanan hidupnya antara sikap sabar dalam ujian atau sikap syukur dalam nikmat. Tepatnya, lebih mudah mana bersabar dalam ujian atau bersyukur dalam nikmat?

Permainan pilihan sikap sabar dan syukur inilah yang memperlihatkan kualitas seseorang atau sekelompok orang dalam bersikap terhadap setiap kejadian atau takdir yang mendera dirinya
Atau kelompoknya. Perlu dipahami bahwa setiap kejadian selalu ada banyak perpektif terhadap kejadian tersebut tergantung kacamata apa yang dipakainya. Jika kacamatnya biru maka akan terlihat biru, jika kacamatanya merah akan terlihat merah. Yang kita perlukan adalah kacamata keimanan. Ketajaman dalam memandang suatu kejadian yang kemudian akan disebut dengan firasat ini sangat tergantung dari kejernihan hati dan kejujuran nurani.

Seperti ketika turun surat An-nasr yang menjelaskan tentang penaklukan kaum muslimin terhadap kota Mekah. Kemenangan terbesar , agung, dengan perjuangan besar nan berliku dan disambut dengan berbondong-bondongnya kaum kafir masuk kedalam agama islam. Kegembiraan, rasa syukur, senang, ketakjuban meliputi hati sebagian besar para pejuang kebenaran pada waktu itu. Namun apa dirasakan Abu Bakar berbeda, perasaan syukur beliau bercampur dengan rasa sedih yang menderu dengan penuh kesabaran karena firasatnya mengatakan sebentar lagi Rasulullah wafat. Ternyata benar!!

Ketika semua mata mengeluarkan air mata, kesedihan dengan diliputi rasa bersabar menghinggapi perasaan para pejuang kebenaran kala Rasulullah sakit. Kekhawatiran yang terlalu besar akan wafatnya sang Rasul. Namun, Abu Bakar tampil dengan ketenangan mantap ditengah-tengah perasaan bersedihnya dengan mengumumkan kepastian bahwa Rasulullah memang wafat. Tidak lari dari masalah, tegas mengambil sikap dengan firasat yang jernih, memberikan pelajaran berharga bagi para pejuang kala itu. Abu Bakar tampil dengan perasaan bersyukurnya bukan karena wafatnya Rasul tetapi dia semakin yakin dengan apa yang ALLAH sampaikan dalam ayat yang sebenarnya sering dibaca para sahabat, yaitu

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Ali Imran :144)

Disinilah perkawinan cantik antara perasaan sabar dan syukur terjadi yang melahirkan kualitas manusia terbaik kedua di jagat raya. Dalam setiap kejadian pasti akan muncul perspektif rasa syukur dan sabar pada akhir pemakluman yang benar.

Ketika seseorang atau sekelompok orang diberikan prestasi luar biasa berupa kekayaan intelektual, kecepatan keuntungan dalam bisnis, tercapainya cita-cita, terpenuhinya harapan, keterampilan berolahraga, kesempurnaan fisik, kenikmatan kemelimpahan harta kemudian dia bersyukur, ketahuilah bahwa disitu terdapat cobaan kesombongan. Yang dia harus bersabar di dalamnya. Jika rasa sombong itu terjadi maka akan terjadi pertempuran antara rasa syukur akan nikmat yang dapat menambah nikmatnya dengan rasa sombong yang dapat menghacurkan segala amalnya. Tidak usah heran kita sering mendengar ada pebisnis sukses kaya raya tapi bangkrut seketika, orang alim dan ahli ibadah tapi mati dalam keadaan kufur nikmat, orang pitar di sekolahnya namun tak kunjung mendapat perguruan tinggi favorit, orang sukses dibangku kuliahnya namun sulit mencari pekerjaan yang pas dan nyaman dan lain sebagainya. Kontras memang tapi ini realita.

Ketika seseorang atau sekelompok orang mendapatkan musibah berupa penyakit, kekurangan kesempurnaan fisik, rencana gagal, kecelakaan, harapan tak kunjung tiba, cita-cita tak terlihat setitikpun di depan mata, bencana kemudian dia bersabar. Ketahuilah bahwa disitu terdapat celah perasaan bersyukur. Karena setiap cobaan atau musibah yang mendera kita perspektifnya hanya dua yaitu Allah ingin menghapus dosa kita yang dosa itu tidak dapat dihapuskan tanpa musibah itu atau derajat kita ingin diangkat yang derajat tersebut tidak dapat terangkat tanpa cobaan atau musibah itu. Makanya tidak usah heran jika kita mendengar kabar ada orang kaya raya tanpa dimulai dari modal uang, anak petani jadi menteri, orang setengah tuli jadi penemu bola lampu, anak kampung jadi pemain sepakbola sukses dan lain sebagainya. Kontras memang, tapi ini realita.

Rasa syukur dan sabar harus berjalan beriringan. Disinilah titik temunya. Sabda Rasulullah Saw,
“Orang makan yang bersyukur, kedudukannya sama dengan orang puasa yang bersabar.”
Kedewasaan dalam mengambil sikap menjadi jawabannya. Mengawinkan antara rasa syukur dan sabar dalam setiap kejadian menjadikan kita manusia dengan kekayaan akan nilai yang tertanam dalam jiwa. Namun ketepatan dan kekuatan mengambil sikap kenapa kita harus bersabar dan kenapa kita harus bersyukur terletak pada seberapa dekat hubungan kita dengan Sang Pencipta dan seberapa jernih hati kita dalam memandang sesuatu itu. Ruhiyah menjadi penentunya!!
Al-Ghazali berkata “ketahuilah bahwa keimanan itu ada dua bagian, satu bagian adalah sabar dan sebagian lain adalah bersyukur”.

Wallahua’lam bishshowab

Maraji’ :
Al-qur’an dan Hadits
Hawa, Sa’id. Tazkiyatunnafs. 2005. Darus Salam: Jakarta
Al-Ghazali. Mutiara Ihya Ulumuddin. 2000. Mizan : Bandung